Rabu, 02 Desember 2009

Rangsanglah Otak Anak dengan Bermain


Rangsanglah Otak Anak dengan Bermain

PUTRA-putri Anda sudah menunjukkan tanda-tanda "maniak" baca pada usia di
bawah enam tahun? Sebaiknya jangan dulu terlalu bangga, karena jangan-
jangan hal itu justru awal dari malapetaka dalam perkembangan intelegensi
sang anak kelak.

Dalam Simposium Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) II di Gedung
Depdiknas, Jakarta, Sabtu (29/5), terungkap bahwa anak yang sudah telanjur
maniak baca pada usia di bawah enam tahun cenderung menunjukkan tanda-tada
kejenuhan saat menginjak masa remaja.

Maka, saat sudah duduk di bangku sekolah lanjutan pertama dan lanjutan atas,
minat baca anak bersangkutan mulai menurun. Padahal, saat- saat itulah
justru diperlukan minat baca tinggi agar bisa menyerap banyak informasi dan
materi pelajaran.



"Memang tidak salah jika anak-anak sejak dini diperkenalkan pada huruf dan
angka. Tapi, jangan sampai anak- anak usia di bawah enam tahun sudah dipaksa
membaca buku dan menghitung angka- angka," ujar Pamela C Phelps PhD, pakar
pendidikan anak usia dini dari Amerika Serikat (AS) yang tampil dalam
simposium itu.

Selain guru, Pamela juga direktur dari Creative Pre-school, sebuah lembaga
PAUD di Florida, AS, yang terakreditasi oleh National Association for the Ed
ucation of Young Children (NAEYC).

SEJUMLAH riset di AS telah membuktikan adanya kejenuhan minat baca anak yangdikarbit sejak dini. Sebaliknya, anak yang dibiarkan menemukan kemampuan
membaca secara alami justru makin gemar membaca dan menunjukkan prestasi
belajar pada masa sekolah lanjutan hingga perguruan tinggi.

"Perlakuan terhadap anak usia kurang dari enam tahun, atau sebelum masuk SD,
sebaiknya lebih sarat dengan rangsangan berupa permainan. Sebab, dunia anak
ada- lah dunia bermain,"papar Pamela.

Permainan bisa berupa gerakan, bunyi-bunyian, warna- warni, maupun suasana
yang menyenangkan bagi anak tanpa banyak perintah. Larangan hanya diberikan
bilamana gerakan sang anak mengancam keselamatannya, seperti memainkan
gunting dan korek api, atau loncat dari meja ke lemari.

Pamela menekankan, permainan harus melatih sensor motorik anak secara wajar.
Bersamaan dengan itu, diperkenalkan budi pekerti demi pembentukan karakter.

Permainan yang sarat rangsangan bertujuan menyeimbangkan perkembangan otak
kiri dan otak kanan. Otak kiri berhubungan dengan kemampuan berlogika,
sedangkan otak kanan berkait dengan kemampuan berimajinasi.

Dokter Fasli Jalal PhD, yang sehari-harinya menjabat Dirjen Pendidikan Luar
Sekolah dan Pemuda (PLSP) Depdiknas menguraikan, dalam otak bayi yang baru
lahir terdapat 100 miliar neuron yang berhubungan dengan triliunan sel glia.
Sel glia merupakan pe- rekat serta sinap (cabang-cabang neuron) sekaligus
penghubung antarneuron.

"Kegiatan otak tergantung pada kegiatan neuron," papar Fasli yang mewakili
Mendiknas membuka simposium.

Potensi cerdas sangat bergantung pada rangsangan yang diterima, terutama
pada usia 0-8 tahun.

RISET yang dikemukakan Pamela ada baiknya hal itu menjadi bahan renungan
bagi para orangtua, pengelola play group (kelompok bermain), dan guru taman
kanak-kanak (TK). Fakta sehari-hari menunjukkan, tidak jarang anak-anak yang
ikut kelompok bermain dan TK, disodori bahan bacaan oleh para pengelola
lembaga bersangkutan. Selanjutnya, secara serempak anak-anak diminta membaca
sederet kalimat menirukan ucapan pengasuh.

Para pengelola play group dan TK sering berkilah, anak- anak asuhan mereka
perlu dilatih membaca dan menghitung sebagai persiapan masuk SD. Saat ini,
memang sudah lumrah kalangan SD elite memberlakukan beragam tes dalam
penerimaan murid baru, dari tes psikologi sampai kemampuan baca-tulis.

"Inilah rangkaian kesalahkaprahan dalam menerjemahkan substansi PAUD," kata
Gutama, Direktur PAUD Depdiknas.

Ini menjadi masalah, karena ujung-ujungnya mengancam mutu pendidikan secara
nasional. Berdasarkan data dari Badan Litbang Depdiknas, saat ini sekitar
2,5 juta anak masuk SD di bawah usia 6 tahun. Padahal, sesuai dengan program
Wajib Belajar, usia siswa dalam mengenyam masa pendidikan SD mestinya 7-12
tahun.

Kecenderungan curi start masuk SD, bakal berdampak buruk terhadap
perkembangan intelegensi anak-anak kelak. Alangkah tragisnya jika anak-anak
terpaksa putus sekolah atau tidak cerdas justru bukan karena faktor ekonomi,
melainkan karena kecerobohan orangtuanya sendiri. (NAR)

0 komentar:

Posting Komentar