Rabu, 02 Desember 2009

STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN

STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN

Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan
otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.
Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar
klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya. Stimulasi diperlukan untuk
perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan. Apalagi bila dikaitkan
dengan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun
(ada juga yang mengatakan 0-6 tahun). Setelah itu, perkembangan otak
manusia pun akan melambat. "Jadi manfaatkan masa ini dengan
sebaik-baiknya," anjur Agustina Untari, psikolog dari Taman Bermain Putik,
Jakarta. Cepatnya perkembangan otak dalam periode ini ditandai dengan
pertambahan berat otak dari 400 gr di waktu lahir menjadi hampir 3 x
lipatnya setelah akhir tahun ketiga.



Sekadar untuk diketahui, pada masa awal usianya, fungsi kedua belahan otak
bayi masih sama. Hal ini bisa terlihat dari cara bayi meraih benda dengan
menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual
fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini
menyebabkan anak cenderung memakai tangan tertentu (umumnya kanan) untuk
melakukan sesuatu.

Contoh lain akan pentingnya stimulasi terlihat pada penelitian tentang
huruf L yang diadakan di Jepang. Dari riset yang dilakukan ditemukan,
bayi-bayi di negeri Sakura hingga usia 6 bulan masih peka terhadap
konsonan "L". Namun, saat menginjak usia 1 tahunan kepekaan itu hilang
karena konsonan L dalam bahasa Jepang tidak diperlukan. "Itu salah satu
bukti kalau otak tidak distimulasi, sinaps-sinapsnya (simpai) akan hilang
begitu saja."

IBARAT PESAWAT TELEPON
Psikolog yang akrab disapa Ina ini mengibaratkan saraf-saraf dalam organ
otak sebagai kumpulan pesawat telepon yang koneksinya belum terhubung satu
sama lain. Agar koneksi antara pesawat telepon di dalam otak "saling
nyambung" diperlukan stimulasi. Tujuan stimulasi adalah mengembangkan
hubungan (network) antara satu saraf dengan saraf lain.
"Saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang
diberikan karena 'pesawat-pesawat telepon' miliknya sudah terkoneksi
sebelum itu. Sebaliknya, bila pesawat-pesawat telepon itu tidak
distimulasi maka sinaps-sinapsnya akan hilang. Bahkan beberapa ahli
percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan organ otak jadi mengecil
akibat menurunnya jaringan fungsi otak."

Masalahnya, begitu banyak hal yang perlu dipelajari si bayi kecil lewat
kelima indranya; ada indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba
hingga pengecap. Yang diharapkan Ina, orang tua rajin menstimulasi semua
indra bayi secara seimbang agar tumbuh kembangnya menjadi optimal. Nah,
kali ini yang akan dibahas adalah stimulasi indra peraba dan indra
pengecap.
STIMULASI INDRA PERABA

Sebenarnya, secara tidak sadar, orang tua sudah melakukan beberapa
stimulasi indra sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya
kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa cara yang dapat
dilakukan:

* Pijat bayi
Pijatan dapat memberi efek relaks pada bayi. Penelitian membuktikan bayi
prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih
tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-¬bayi prematur yang
tidak dipijat. "Jadi terbukti sentuhan orang tua mempengaruhi perkembangan
bayi, bukan?"
Jadi kalau mau mencoba boleh-boleh saja. Akan lebih baik bila mengikuti
berbagai kursus pijat bayi yang banyak diselenggarakan untuk mengetahui
teknik pijatan yang tepat. Jika bayi dipijat tanpa mengenakan pakaian,
pilih ruangan yang cukup hangat.

* Perhatikan ranjang
Kebanyakan, waktu bayi akan dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk
menstimulasi indra peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang
lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.

* Manfaatkan berbagai bahan
Bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Untuk itu kita
bisa mengenalkannya kepada berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin,
velvet, kulit, handuk dan sebagainya. "Bisa juga memanfaatkan kegiatan
sehari-hari. Dengan mandi, misalnya, bayi jadi tahu sifat sabun yang
licin."

* Berjalan tanpa alas
Bila sudah agak besar, bayi bisa diajak berjalan-jalan tanpa alas kaki
sehingga ia dapat merasakan perbedaan kala menyentuh lantai, karpet, atau
rumput.
"Nah, apa yang kita sampaikan kepada sensori peraba bayi akan terekam di
dalam otaknya dan membantu dia menghubungkan jaringan sel-sel saraf yang
ada di dalamnya. Akhirnya, pada sekitar usia 2 tahun ia mulai bisa
menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.

STIMULASI INDRA PENGECAP

Stimulasi indra pengecap pun sudah akrab dengan aktivitas sehari-hari si
kecil, berikut beberapa di antaranya:

* Menyusu ASI
Merupakan salah satu cara merangsang indra pengecap bayi. Beberapa pakar
mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari
ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30
sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun
bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya
* Biarkan mengisap jari
Untuk menstimulasi indra pengecapnya biarkan bayi mengisap jari. Seperti
diketahui, setiap bayi pasti akan mengisap jari. Terlebih pada bayi baru
lahir hingga usia 3 bulan. Sampai usia 7 bulan pun, kebiasaan mengisap
jari pada bayi masih dianggap wajar. Setelah usia itu tentu kebiasaan ini
mesti dihentikan.

* Memberikan PASI
Selepas usia 6 bulan, mulailah bayi diperkenalkan dengan berbagai macam
rasa makanan agar saat besar nanti indra pengecapnya terbiasa dengan aneka
jenis makanan. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih
makanan.

* Mainan gigitan
Bisa diberikan saat ia mulai memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya,
yakni sekitar usia 6 bulan. Tentu saja perhatikan kebersihannya.
Ina menyarankan, ajak si kecil ngobrol saat kita memberinya stimulasi.
Dengan begitu, perkembangan bahasanya pun akan ikut terangsang. Dengan
berkomunikasi, orang tua juga akan menjalin kedekatan dengan anak. "Namun,
kelekatan tetap kurang terjalin bila sambil berbicara, pikiran orang tua
berada entah di mana."
Jadi, ajak bayi berbicara dengan tatapan mata. Saat memandikan, kita bisa
ngobrol tentang air yang begitu dingin. "Ih airnya dingin, ya." Dengan
begitu, anak merasa bahwa kita berusaha berhubungan dengannya. "Walau
mungkin respons bayi belum terlihat, hanya menatap saja, misalnya, tapi
itu sebenarnya menunjukan kelekatan sudah terbangun."

0 komentar:

Posting Komentar