Kamis, 03 September 2009

dasyatnya sedekah

Dahsyatnya Sedekah


Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang
bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut
:

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun
bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan
kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi
pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan
penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya?
"Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang
lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa
gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan
diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang
terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah
sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada
besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi,
bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih
setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah
sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada
api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api
membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika
disiram oleh air).



"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang
lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada,
yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta
terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi
gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan
menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan
perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena
dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki
kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah
adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari
semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya
menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan
sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan
kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan
paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi
tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang
dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur
pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita
bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai
kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi
tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita
sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan,
penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita
pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang
ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita
lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau
yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang
bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang
mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan
kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu
pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah
dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang
ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari
kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya
kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa
yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis
antar kota beberapa hari sebelumnya.

Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena
musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh
penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang
yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal
seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh
penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat,
bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua
akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut
dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang
suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan
yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika
hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih
dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan
zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah
sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah
pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat
dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah
disangka-sangka.

Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada
kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu
membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap
gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya,
toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada
terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun
amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita.
Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini
ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita
lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari
Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya.

Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa
beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an
semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan
mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika
di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan
hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh
kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan
Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta
yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak
betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada
para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan
perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah.
Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang
sedekah kepada Rasulullah SAW.

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] :
261).

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh
Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu
dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku
hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan
untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham
lagi aku serahkan di jalan Allah."

"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang
engkau berikan," jawab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya,
Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian
bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki
empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham
waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham
secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara
diam-diam.

Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan
menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain
karena yakin akan balasan yang berlipat ganda
sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.
Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan
mati.

Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan
mati syahid di medan perang, karena mereka yakin
apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan
mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu
na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu
siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata
selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah
dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk
bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur
pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih
menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu
terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya
akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya
Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di
jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas,
sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan,
sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang
dikemukakan di awal tulisan ini.

Wallahu a'lam bishshawab

0 komentar:

Posting Komentar